kita melintas ke tanah sumatera. teh ini saya beli tahun 2004-2005 saat
ada tugas pekerjaan ke daerah bukit tinggi - sumatera barat. diantar
sama teman masuk supermarket, hanya teh ini yang aneh dan tak mudah
ditemukan di tanah jawa. ya udah beli 2 jenis, masing-masing 2 buah.
biasanya 1 untuk dipajang dan 1 bungkus dibuka untuk dites rasanya dan
bungkusnya dibuka lemnya untuk disimpan di
clear holder.
 |
| bagian samping |
 |
| bagian samping dan bagian atas/bawah |
namanya teh
kayu aro. produksi di daerah
kerinci - jambi
tapi untuk pangsa pasar di tanah sumatera sangat menjanjikan. kondisi
bungkus agak kusam karena sudah pindah-pindah temapt dan keluar masuk
kardus. konon untuk grade atau KW1-nya
sangat mahal dan hanya untuk konsumsi ekspor.
 |
| versi kuning |
 |
| special blend |
|
tapi untuk yg ini terus terang kedua-duanya belum saya coba. hanya sudah
punya firasat bahwa teh ini rasanya seperti teh-teh produksi tanah
sumatera. karena saya pernah tugas di daerah sumatera selama 12 bulan.
Berkunjung ke Pabrik Teh Kayu Aro
Jum'at, 15 Februari 2013 | 14:33 WIB
TEMPO.CO,
Jakarta
- Mungkin tidak banyak orang kenal teh Kayu Aro yang ditanam di dataran
tinggi lereng Gunung Kerinci, Jambi. Padahal, kayu aro merupakan teh
terbaik Indonesia. Bahkan, di zaman kolonial, teh Kayu Aro menjadi
minuman Ratu Inggris dan Ratu Belanda.
Dari Kayu Aro, minuman
yang dihasilkan adalah teh ortodox atau teh hitam. Dulu, teh hitam ini
berasal dari teh Assam, India. Kelebihan teh hitam ortodox ada pada rasa
dan aroma. Keduanya begitu khas. Bahkan, keunggulan ini membuat
produsen teh kemasan menjadikan teh Kayu Aro untuk bahan campuran utama
untuk memperoleh cita rasa yang diinginkan.
Luas perkebunan teh
Kayu Aro di lereng Gunung Kerinci mencapai 3.020 hektare. Itu merupakan
salah satu hamparan perkebunan teh terluas di dunia. Kebun ini terletak
di ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl), hingga 1.600
mdpl. Kebun ini salah satu perkebunan teh tua di Indonesia, yang
dibangun pada zaman kolonial Belanda.
Awalnya kawasan ini hanya
hutan biasa. Perusahaan Belanda Namlodee Venotchaat Handle Verininging
Amsterdam kemudian menyulapnya menjadi perkebunan teh pada 1925 hingga
1928. Pembukaan hutan Kerinci sebagai kebun penanaman teh dilakukan
dengan mempekerjakan ratusan kuli kontrak asal Jawa. Proses penanaman
teh dimulai pada 1929, sedangkan pabrik teh berdiri tahun 1932.
Dari
tangan kolonial, pengelolaan perkebunan teh Kayu Aro beralih ke PT
Perkebunan Nusantara VI. Hingga kini kebun teh serta pabrik tua
peninggalan Belanda masih beroperasi.
Untuk menikmati hamparan
kebun teh, masyarakat umum dapat langsung datang dan berwisata.
Sedangkan bagi pengunjung yang berniat melihat proses pengolahan teh di
pabrik Kayu Aro, mereka membutuhkan izin khusus dari perusahaan
Nusantara. Soalnya, demi menjaga agar aroma teh tidak tercemar, tidak
sembarang orang diizinkan masuk pabrik. Pekerja pabrik juga dilarang
menggunakan kosmetik.
Di pabrik, daun segar yang baru dipetik
akan melewati proses pelayuan di dalam bak-bak, yang di bawahnya dialiri
udara panas. Setelah layu, dengan lori gantung, daun-daun itu diangkut
ke tempat penggilingan. Lalu digiling dengan mesin.
Proses
selanjutnya adalah fermentasi. Hasil gilingan diangin-anginkan di
ruangan yang bersuhu dingin. Terakhir dikeringkan, istilahnya masuk ke
penggorengan. Dengan mesin, bubuk teh akan dipisah berdasarkan mutu.
Rata-rata setiap tahun kebun teh ini memproduksi 5.500 ton teh hitam.
Sebagian diekspor ke Eropa, Rusia, Timur Tengah, Amerika Serikat, Asia
Tengah, Pakistan, dan Asia Tenggara.
Tahap akhir dari proses ini
adalah uji teh di ruang pengujian, yang dilakukan setiap hari. Tes itu
dimulai dari dari pengujian penampakan partikel, uji rasa, aroma, warna
air seduhan dan penampakan ampas seduhan. Menurut petugas tes teh,
Jumiati, pengujian dilakukan sejak teh kering dari penggorengan.
Tujuannya untuk mendeteksi jika ada perubahan mutu. Teh diuji sekali
lagi sebelum dikemas.
Jumiati yang sudah belasan tahun menjadi
tester teh, mengambil teko dan cangkir teh dan menyiramnya dengan air
panas. Beberapa sendok teh grade satu, teh paling unggul, dimasukkan ke
dalam teko. Butirannya tidak terlalu halus dan berwarna hitam. Lalu daun
teh itu disiram air mendidih, ditutup selama tiga menit.
Setelah
itu, Jumiati menuangkan cairan teh kemerahan ke cangkir porselin putih.
Untuk pengujian, ia mencium aroma teh yang mengepul, dan mencecap
airnya. Bila ada aroma yang aneh dan tidak sesuai standar, teh yang
sudah jadi itu tidak jadi dijual. Mereka akan mencari penyebab keanehan.
Dari
ruangan pengujian ini, terungkap rahasia cara menyeduh teh yang benar.
"Jangan kelamaan menyeduhnya, nanti pahit, dan harus selalu dengan air
mendidih," kata Jumiati.
Secangkir teh Kayu Aro yang berwarna
kemerahan itu rasanya benar-benar beda dengan teh lain. Aroma dari uap
air teh yang mengepul pun amat khas. Sayangnya, susah sekali mendapatkan
teh kualitas grade satu di sini, sebab hanya dijual ke luar negeri.
Di
Jambi dan Sumatera Barat, ada pula teh aro yang dijual dengan merek Teh
Kajoe Aro. Meski beda kualitas, rasanya tidak jauh beda dengan teh
ekspor itu.
(FEBRIANTI)